Kebanggan dan harga diri
October 10, 2007 at 3:35 am | In Culture |Sabtu tanggal 6 Oktober 2007 yang lalu saya menghadiri pesta perkawinan anak sahabat di suatu gedung pertemuan. Seperti biasanya di acara perkawinan orang batak, prosesinya sangat panjang, dan sekedar mengisi waktu luang, kamipun membicarakan berbagai topik-topik, seperti ekonomi, politik, lingkungan, budaya dan macam-macam.
Salah satu topik yang kami bahas adalah tentang kebanggan dan harga diri orang Batak ‘pabila hendak melaksanakan hajatan perkawinan. Terutama mengenai tempat pelaksanaan haruslah di suatu gedung pertemuan (khusus orang Batak), dan apabila semakin mahal, semakin mantaplah kebanggan itu. Sementara sewa gedung pertemuan semacam ini bernilai puluhan juta up. Yang paling mengesankan lagi adalah sulitnya memperoleh kesempatan menyewa gedung pertemuan saking padatnya orang batak ber-hajatan di kota ini. Bayangkan, kalau kita mau melaksanakan hajatan, harus melakukan pemesanan jauh jauh hari, seperti yang dialami oleh teman ngobrol saya ini, bahwa dia telah memesan gedung pada bulan September 2007 yang lalu dengan hasil mendapat jadwal pada bulan April 2008. Busyeeet ………. segitu banyakkah orang Batak ber-hajatan di kota ini? Padahal, gedung pertemuan semacam ini di Jabodetabok sungguh banyak jumlahnya.
Catatan: Umumnya pelaksanaan hajatan dilakukan pada hari Sabtu, Minggu dan hari liburan lainnya, dan akhir-akhir ini kadangkala hari Jumat pun sudah ada sebab sulit mencari jadwal seperti yang saya sebutkan tadi.Sekedar tahu saja, berapa uang beredar dalam satu tahun hanya untuk hajatan semacam ini, dengan asumsi (minimum) di bawah ini,
- Pelaksanaan hajatan 10 kali dalam sebulan (Sabtu + Minggu dan hari libur lainnya), artinya 120 kali setahun per gedung.
- Sewa gedung + Catering = Rp.31.000.000
- Biaya persiapan hajatan sebanyak 25% dari sewa gedung
Biaya sewa: 120 x 31.000.000 : 3.720.000.000 Biaya persiapan 25% : 930.000.000 Total : 4.650.000.000
Itu hanya peredaran uang untuk satu gedung, sementara ada banyak gedung pertemuan di kota ini. Sungguh angka yang fantastis untuk sebuah kebanggan dan harga diri, walau sebenarnya bukan selalu uang ukurannya.
Sedikitkah itu???, aaah ….pemborosan saya kira, seharusnya lebih bermanfaat bila digunakan untuk hal-hal yang lebih produktip, sementara masih banyak desa tertinggal dan miskin di kampung sana.
3 Comments »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Leave a comment
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.



















Saya melihat ini adalah bagian dari gaya hidup di perkotaan (juga sudah mulai diadopsi di kampung) dan menjadi suatu rangkaian dari value chain dari bisnis acara pernikahan. Karena ini adalah gaya hidup, maka akan lebih banyak di pengaruhi oleh ‘wants list’ dari pada ‘needs list’…
Comment by Elisa — October 10, 2007 #
Hehehe…kritikan nih ye…
Memang begitu Mas Bachtiar, gak orang Batak…gak orang Jawa, sama saja jika ngadain Hajatan Nikah…wah pasti mewah…jika yang punya Hajatan itu memang orang mampu, kaya raya…
Dan, kalau kaya…pasti ya jaga gengsi kan..itu termasuk tuntutan kebutuhan dasar psikologis lho…hehehe…ingat KETENARAN?
Kalau soal lebih produktif manfaatnya, ya gak ada kaitannya, Mas…
Budget nya kan beda-beda tempatnya…wakakakak…
Wong pemerintah aja gitu kan? Ada budget buat hura-hura, buat ngelencer, buat korupsi…dan paling terakhir buanget…adalah budget buat penduduk miskin, tapi ya gitu…budgetnya miskin banget…alias dikit buanget gitu loh…hahaha…
Ok, semoga semakin sukses deh ya, biar kita lebih mudah membantu masyarakat tertinggal di dalam kemiskinan..Amien.
Wasalam,
Wuryanano
http://wuryanano.com/
Comment by Wuryanano — October 11, 2007 #
@Dear Elisa,
Itu dia, value chain lebih berperan antara wants list dengan needs list; n Thanks sudah comment!
@Mas Wuryanano,
Ya, sekedar mengingatkan orang Mas, tentu kalau berterima….. heehe..hee
Soal pemerintah sih ga’ usah diomongin, emang udah kerjanya, ada kesempatan harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Sukses juga untuk Mas Wurianano dan Selamat merayakan Hari Raya Lebaran.
Salam!!!
Comment by Bachtiar — October 12, 2007 #